Tuesday, November 27, 2012

Pepes Tahu

Hari ini tumben tukang sayur langganan yang lewat depan rumah membawa daun pisang yang kondisinya masih bagus-bagus. Abangnya menawarkan saya.
"Ini Bu, daun pisangnya masih bagus"
"Masak apa Bang, pake daun pisang begini?"
"Bikin pepes aja Bu. Gampang bikinnnya, cuma pake tahu, jamur, bawang merah, daun salam sama daun kemangi"
"Beneran gampang nih?" "Ada semua nggak bahannya di sini?"
"Ada Bu"
Si Abang langsung repot mencari bahan-bahan yang diperlukan, sambil ngasih tahu ke saya step-step cara membuat pepes tahu. Si Abang kayaknya jago juga masak memasak nih, pikir saya. Setelah semua bahan ada dan saya membayar semua belanjaan, saya mulai browsing mencari tahu keakuratan info dari si Abang sayur. Ternyata 95% betul. Wiihh, mantabs deh si Abang sayur.

Ini dia resepnya:
1 buah tahu putih / cina (dihancurkan)
4 buah jamur putih (diiris tipis)
5 siung bawang merah (diulek)
1/4 sdt garam
1/2 bks masako ayam
1 butir telur ayam
2 lbr sereh (geprek)
3-5 cm lengkuas (geprek)
6 lbr daun salam
6 lbr daun jeruk
6 irisan tomat (dari 1/2 tomat aja)
beberapa lembar daun kemangi
daun pisang untuk membungkus
tusuk gigi untuk menyematkan

Cara membuatnya:
1. Tahu putih dihancurkan, masukkan bawang merah yang sudah diulek, jamur, telur ayam sambil diaduk supaya tercampur rata
2. Masukkan garam, masako, sereh, lengkuas, diaduk lagi
3. Siapkan daun pisang untuk membungkus. Masukkan adonan tahu tadi ke dalam daun pisang, ditambahkan daun salam, daun jeruk, daun kemangi dan tomat. Lalu bungkus dan sematkan dengan tusuk gigi. Masing-masing bungkus ada 1 lembar daun salam, 1 lbr daun kemangi, 1 lbr daun jeruk dan irisan tomat.
4. Kukus sampai matang, kira-kira 15 menit.

Untuk 7 porsi, tapi kalau ukuran tahunya agak besar, bisa dapet lebih banyak kali yaa.

Selamat mecoba!!


Saturday, November 24, 2012

Sayur Asem

Lagi asiknya nonton berita pagi di Trans 7, saya dikejutkan suara assalamu'alaikum dari balik pagar rumah. Wa'alaikum salam, jawab saya. Setelah didekati baru terlihat tetangga sebelah rumah. "Mama Rania, ini ada sayur asem, cobain ya. Belum masak kan?" Wah, Alhamdulilah, pagi-pagi sudah dapat kiriman makanan. Setelah berkali-kali mengucapkan terima kasih, saya masuk rumah dan meletakkan sayur yang masih panas dan teri kacang balado di meja makan.

Tetangga sebelah kanan saya ini memang pintar masak. Sering sekali mengirimkan makanan ke rumah, dan hampir semuanya cocok dengan lidah saya dan suami. Makanya saya dan suami selalu bilang masakannya enak-enak. Yang sering dibawakan mulai dari makanan sederhana yang "hommy" seperti sayur asem, teri balado, sayur bayam wortel, tahu isi, terus makanan yang 'kayaknya susah' saya masak seperti kwetiau goreng, ikan lele balado, sampai makanan yang 'kayaknya nggak mungkin' saya masak seperti oseng jantung pisang.

Dulu, setelah saya baru melahirkan, hampir setiap hari saya dibawakan makanan. Saya yang merasa 'tidak enak' dibawakan makanan sering berujar tidak usah repot-repot. Tapi tetap saja makanan itu tidak berhenti mengalir. Alhamdulillah. Momennya memang pas, dimana pagi-pagi merasa kelaparan karena menyusui semalaman, makanan yang siap santap memang yang paling dibutuhkan pada saat itu.

Sesekali saya membalas mengirim makanan juga. Tapi apa sih yang bisa saya antar, saya kan 'kurang bisa' masak, dibanding dia yang pengalamannya lebih banyak. Makanya kalau habis pulang dari bepergian jauh, saya selalu membawakan oleh-oleh untuknya. Lumayan lah, mengurangi rasa 'tidak enak' tadi. Tapi semakin sering saya bawakan oleh-oleh, makin sering juga dia mengantarkan makanan. Hufft... yang tadinya saya merasa 'tidak enak' kok malah jadi 'keenakan'.

Sampai tadi pagi, kebiasaan antar-mengantar makanan masih berlanjut. Alhamdulilah, cuma itu yang bisa saya ucapkan. Semoga itu bisa jadi ladang amal buatnya dan yang pasti jadi bikin perut kenyang buat saya dan keluarga. Alhamdulillah...

Wednesday, November 21, 2012

Bukit Pelayangan @Serpong

Sejak Kiki (my bro) menikah, belum pernah lagi keluarga besar saya pergi beramai-ramai. Mumpung lagi long weekend, bersepakatlah saya, my sis, and my bro with the entire family having dinner. Ke mana? sedang dalam proses pencarian. Maklum kami suka dengan makanan sunda dan dengan suasana yang agak "ndeso". Resto yang punya saung dan makanan sunda dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah pun jadi pilihan. Setelah browsing dan liat-liat peta (thanks to a friend), ada satu di daerah Bintaro, Talaga Sampireun, dan satu lagi di daerah Serpong, Bukit Pelayangan. Kedua resto ini belum pernah kami kunjungi. Akhirnya disepakati kita ke Talaga Sampireun dulu, mengingat resto ini selalu penuh dikunjungi saat weekend. Kalau nggak kebagian tempat, kita ke Serpong.

Sabtu itu, kami berangkat jam 4 sore. Cuaca mulai mendung. Hmm... kalo makan di saung sambil lihat tetesan hujan bakal jadi romantis banget nih, pikir saya. Tapi itu kalo berdua, nah kalo berame-rame ngajak krucil-krucil ini, malah jadi ajang basah-basahan. Wusshhh.... langsung terbang deh khayalan saya. Kami pergi ber... 1,2,3, ...9,10 eh 11,12. Rada lama ngitungnya, karena ada dua anggota baru di keluarga besar saya, which is baby Renata dan Aunty Nurul. Hore.... prok...pprok. Welcome to the Club....

Pake dua mobil, jadilah kami ber-12 jalan-jalan sore. Sasaran pertama, Talaga Sampireun. Di jalan udah dibahas makanan apa yang mau dipesan. Sampai di Talaga Sampireun, ke meja reservasi, dan ternyata sudah penuh. Duhh... kecewa banget. Udah ngebayangin suasana romantis di situ. Di sini untuk sabtu, minggu dan hari libur memang tidak bisa reservasi via telp, kecuali untuk rombongan di atas 20 org. Sekarang di Talaga Sampireun untuk 10 orang minimal pembelian adalah Rp.800rb. Wiiihhh... lumayan mahal ya untuk kantong saya. Untung deh gak kebagian tempat. Dari situ kami putar balik ke arah tol. Next destination is Serpong.

Resto yang kedua ini nggak jauh jaraknya dari keluar tol Serpong. Bupe Resto, begitu plang papan nama restonya. Masuk ke dalam gang yang cukup dua mobil, kami sampai juga ke sana. Dari tampak luar nggak kelihatan seperti resto disitu (walau memang ada tulisannya), tapi begitu masuk melewati pintu gerbang, baru terlihat ada beberapa rumah-rumahan yang bernuansa sunda dan ada children playground. Kami diterima dengan ramah sekali oleh para pelayan, dan ups hampir saja kami nggak kebagian tempat, karena ternyata tempat untuk tamu lebih dari 10 orang sudah hampir habis di pesan. Alhamdulillah kami masih kebagian tempat.
Setelah duduk dan membaca menu, kami pun memesan : (perlu di rinci gak ya??? iya deh, buat gambaran kalo mau kesana )
1. Gurame kipas  Rp.57.500                                              8. Sayur asem  Rp.9.000
2. Gurame asam manis  Rp.71.500                                    9. Lalapan + sambal   Rp.8.000
3. Udang lada hitam  Rp.42.500                                        10. Jus rata2 Rp.16.500 
4. Cumi goreng  Rp.45.000                                              
5. Ikan Kue Bakar Rp.62.500
6. Kangkung  Rp.17.500
7. Karedok  Rp.15.000

Mejanya penuh, perutnya juga
 Sambil menunggu makanan dateng, kami maghrib-an dulu dan anak-anak main di playground yang ada di situ. Resto ini view nya bagus. Kayak kita lagi di puncak atau di Lembang gitu. Karena kontur tanah di resto ini berbukit-bukit. Apalagi di tambah suasana malem yang abis ujan, dingiiin. Terus ada kolam ikan berisi ikan-ikan koi yang gede-gede banget (jadi inget alm. ikan koi yang ada di rumah, hiks...). Sayang, saya nggak bisa ngambil foto suasana resto pas malem, karena kemampuan hape saya terbatas hehe... Tapi resto ini kudu dicoba buat yang kangen sama suasana puncak dan gak mau kena macet di Ciawi.


Mom and Dad
with Mr "M Yasin"

Antara aku, kau dan papaku
Aunty Nurul, Rania, Raya and Shaka





Friday, October 26, 2012

Surati

Sudah beberapa hari ini, saya mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Biasanya ada asisten yang membantu membereskan rumah. "Surati sakit panas bu, belum bisa masuk kerja", begitu isi sms yang saya terima, mengabarkan ketidakhadirannya. Asisten saya itu masih sekolah, kelas 2 SMU tepatnya. Dia sendirian di Jakarta, bertekad meneruskan sekolah. Orang tuanya ada di Karang Anyar Solo, bekerja sebagai petani. Orangtua Surati tidak mampu menyekolahkan anaknya, sehingga Surati harus sekolah sambil bekerja di Jakarta.

Sakitnya Surati saya anggap sakit biasa, karena dia toh memang agak lemah fisiknya. Saya pernah membawanya ke rumah sakit, karena tiga hari tidak masuk kerja dan tidak sekolah. Dari diagnosa dokter saat itu, ternyata dia memang punya penyakit maag akut. Sakitnya kali ini pun saya anggap sakit maag yg sedang kambuh. Tapi di hari yang kedua dan ketiga, Surati tidak muncul juga. Saya berusaha mencari kabar ke HPnya dan HP kepala asramanya (Surati tinggal di asrama sekolah. Jadi setiap hari setelah pulang sekolah, dia bekerja di rumah saya sampai jam 3 atau 4 sore). Dari kepala asramanya, saya baru tahu kalau Surati dirawat di Rumah Sakit daerah Bintaro. Astaghfirullah, sakit apa Surati hingga harus di rawat inap? Kepala asramanya tidak tahu dengan pasti sakitnya Surati, karena Surati sulit dihubungi. Akhirnya, saya hanya bisa menunggu.

Setelah beberapa hari kemudian, Surati menelepon saya. Akhirnya... Dia pun menjelaskan kenapa tidak menelepon saya dan mengabari saya. Dia juga menjelaskan perihal sakitnya. Dari Surati, saya tahu bahwa sakitnya paru-paru basah yang sudah parah. Jantungnya pun didiagnosa terlalu lemah, sehingga tidak bisa bekerja yang berat-berat. Mungkin akibat pola hidupnya dan pola makannya selama ini tidak terkontrol dengan baik. Dalam hati saya berkata, Ah Surati... kasihan sekali kamu. Jauh dari orang tua, harus dapat cobaan seperti itu. Siapa yang akan mengurus kamu? Sambil mendengarkan penjelasan Surati, tak terasa air mata saya menetes.

Besoknya, Surati datang ke rumah. Mengembalikan kunci rumah sambil berpamitan tidak bisa bekerja lagi. Saya lalu bertanya, "gimana nanti bayar SPP nya Ra?"

"Untuk beberapa bulan ini, ada saudara yang bisa membiayai Bu. Setelahnya, saya belum tahu gimana lagi. Semoga ada rezeki". Ah, sedih rasanya mendengar jawaban yang tak pasti itu.

"Walaupun kamu gak kerja disini lagi, jangan sungkan main2 ke sini ya Ra. Semoga kamu berhasil di sekolah ya Ra. Kalau ada apa-apa kabari saya ya. Maafin saya kalau saya ada salah". Hanya itu yang bisa saya katakan, karena suara saya mulai serak dan mata saya mulai basah.

"Iya Bu. Saya terima kasih sama Ibu sudah bantu saya, jadi saya bisa meneruskan sekolah sampai sekarang ini. Saya juga maunya kerja aja disini, tapi saya gak enak kalo saya sering gak masuk karena sakit-sakitan. Saya minta maaf juga ya Bu kalau saya ada salah". Dia pun mencium tangan saya sambil menangis. Dan hari itu, Surati berhenti kerja.

Apa kabarnya Surati sekarang, saya tidak tahu. Dia tidak punya nomor HP yang bisa saya hubungi. Tapi terakhir saya dengar, dia sedang pulang kampung. Mungkin mencoba berobat alternatif, atau mungkin kangen dengan orangtuanya. Entahlah.

Ya Allah, semoga Kau tunjukkan kepadanya jalan yang lurus, Kau lapangkan rizki yang berkah baginya, Kau mudahkan segala urusannya. Amin...


Masak makanan sehat

Setiap dua minggu sekali, di TK Rania ada acara makan sehat. Orang tua diberi jatah masak makanan sehat untuk satu kelas saja. Misalnya Rania di TK B1, berarti saya kebagian jatah masak untuk teman2 Rania di kelas B1 saja. Kebetulan besok adalah tugas saya memasak. Kebayang gak sih, Selasa siang baru dikasih tahu bahwa yg tugas masak untuk Kamisnya adalah saya, berarti saya cuma punya waktu 1 hari utk nyiapin segalanya. Mungkin untuk bunda yg biasa masak gak ada masalah. Tapi saya, yg masak sayur bayam aja kadang keasinan, rada repot. Repot maksudnya, gak cukup waktu untuk minta tolong tukang masak. Belum lagi bulan ini jatah untuk dapur berkurang, karena ada keperluan penting lain. Jadi... ya masak sendirilah, supaya bisa berhemat.

Deg-degan banget nih. Ini adalah masakan perdana saya yg bisa go international. Hehehe... maksudnya yg bisa dicicipi sama orang lain selain ayahnya dan anak-anak. Menu makanan yg dikasih ke saya adalah nasi, ayam gulai, kerupuk dan jeruk dengan porsi sebanyak 30 orang. Dari Rabu pagi, abis antar kakak sekolah, langsung belanja ke pasar, beli ayam, bumbu jadi (masih gak pede..hihi), kerupuk mentah
, box makanan, jeruk dll. Siangnya setelah jemput kakak, mulai goreng kerupuk (gak pake dijemur, soalnya lagi gerimis). Trus, dibantuin sama anak-anak masukin kerupuknya ke dalam plastik. So, jeruk dan kerupuk sudah selesai. Besok pagi-pagi sekali, perjuangan yg sesungguhnya akan dimulai. Mampukah saya menjawab tantangan ini...? kita tunggu kelanjutannya. Hehehe....

Masak makanan sehat (2)


Akhirnya waktu yg dinanti telah tiba. Saya bangun jam 04.00. Langsung terjun ke dapur, nyiapin ayam, bumbu dlsb. Walaupun mata masih ngantuk tapi pede aja nyemplungin bumbu-bumbu (iyalah bumbu beli jadi, hehehe). Ternyata masak ayam 3 ekor gak cukup dijadiin satu di panci yang saya pinjam dari kakak ipar. Akhirnya saya masak di wajan dan panci deh. Nah lho, sekarang ngatur bumbunya bingung. Soalnya udah ditakar utk di satu tempat, kalo dipecah dua dan gak seimbang gini jadi bingung sendiri. Wajannya ukurannya kecil sedangkan pancinya lebih besar dari wajan. Hugh... udahlah pede aja, cemplunginnya dikira-kira aja lah.
Setelah selesai masukin bumbu dan santan, tinggal nunggu ayam matang. Sambil nunggu ayam matang, saya masak nasi di magic com. Trus, selesai subuh, saya bangunin suami untuk bantuin masukin nasi yg sudah dicetak ke dalam styrofoam. Begitu ayam matang, saya gak langsung masukin ke plastik, karena takut cepet basi. Jadi diangin-angin dulu, biar cepet saya kipasin pake kipas angin aja.

Jam 06.30, setelah suami berangkat kerja, saya terusin masukin nasi, buah, kerupuk dan kue ke dalam styrofoam. Trus saya bangunin Rania, saya nyiapin Rania untuk ke sekolah dan berangkatnya saya titipin sama tetangga yg kebetulan satu sekolah juga. Selesai urusan Rania, saya lanjutin masukin sayur gulainya ke plastik trus dimasukin ke styrofoamnya.

Jam 08.00 semua selesai. Alhamdulillah. Langsung mandi dan bersiap ke sekolah.

Setelah dihitung-hitung, lebih berhemat kalau memasak sendiri dibanding harus pesen ke tukang masak. Saya cuma mengeluarkan uang tambahan Rp.80ribu. Coba bandingkan kalo diserahkan ke tukang masak. Satu porsinya kira-kira Rp.10rb dikali 30 bks jadi Rp.300rb. Berarti saya bisa nombok Rp.230-250rb. Wuiiihhh.... jauh amat yak...

Masak sendiri juga ada keuntungan lain selain keuntungan materi. Anak-anak jadi bisa lebih dilibatkan. Mengerjakan semua secara gotong royong bisa mengajarkan Rania dan Raya saling bekerja sama, kekompakan dan rasa kekeluargaan. Satu hal yang pasti, memasak sendiri bisa menumbuhkan rasa percaya diri mamanya. ^_^

Friday, July 27, 2012

Kangen Ibu

Entah untuk ke berapa kalinya saya teringat ibu saya .Beliau sudah setahun berpulang ke Rahmatullah. Tepatnya 2 Juli 2011. Ibu adalah panggilan untuk ibu mertua saya. Setiap teringat beliau, saya selalu menangis, sama seperti kebanyakan anak-anak lain yang sudah kehilangan orang tuanya dan didera rasa rindu. 

Saya kenal ibu baru 15 tahun. Delapan tahun saya menjadi anak menantunya. Tujuh tahun lagi saya kenal saat saya pacaran dengan anaknya. Sosok ibu yang saya kenal dari dulu sampai beliau gak ada, adalah seperti sosok ibu-ibu rumah tangga umumnya. Berdaster di rumah, bersolek saat pengajian dan kondangan, pandai memasak (masterchef buat saya, karena selalu jadi tempat bertanya) dan pandai bercocok tanam. 

Ibu bukan lulusan sarjana, tapi bisa mencetak sarjana. Ibu bukan pekerja kantoran, tapi mampu melakukan pekerjaan yang multi tasking. Ibu bukan seorang ekonom, tapi mampu me-manage keuangan keluarga (dengan gaji suami seorang PNS dengan 6 orang anak). Ibu tidak suka membaca buku-buku filsuf, tapi setiap perkataannya mampu memberi kedamaian dan sangat bijaksana. 

Ibu sudah lama mengidap hipertensi. Kata orang kalo sudah hipertensi berbahaya jika disandingkan dengan penyakit yang lain. Sebelum beliau meninggal memang sudah bolak-balik masuk RS dengan keluhan penyakit yang berbeda. Denyut jantung lemah, pembengkakan jantung, diare berkepanjangan, sampai disaat terakhirnya mendapat vonis sakit ginjal. 


Ibu... seandainya Ibu ada di sini, ingin aku memeluk Ibu berlama-lama, ingin aku mencium pipi Ibu, ingin aku mendengar cerita-cerita Ibu di masa lalu. 

Ibu... maaf sudah membuat Ibu kelelahan menjaga anak-anak setiap aku harus lembur. Maaf sudah membuat Ibu kerepotan mengajarkan aku bumbu-bumbu dapur. Maaf sudah membuat Ibu khawatir karena kami jarang menelepon Ibu. Maafkan kami yang belum bisa membahagiakan Ibu.

Ibu... terima kasih atas semua pelajaran hidup yang kami dapatkan. Kelak kita akan bertemu lagi, di surganya Allah. Insya Allah. Amin.