Showing posts with label rania. Show all posts
Showing posts with label rania. Show all posts

Thursday, May 17, 2012

ABG Kecil

Saya punya dua ABG di rumah. Yang satu asisten RT, yang satunya lagi Rania. Yg satu umurnya 16 tahun yang satu 8 tahun. Perbedaan umur yang jauuh. Tapi gayanya sama. Rania tuh kalo liat boy band atau girl bad di TV langsung manteng di depan TV. Ampunnn deh. Semua boy band dia tahu, apalagi smash and cherrybelle mulai dari nama personil, tanggal lahir, mana yang punya pacar, siapa aja nama pacarnya, kesukaannya, sampe binatang peliharaannya, dia tahu juga. 
Kemaren waktu Suju ke Indonesia minta nonton. Saya bilang harga tiketnya 2 juta. Dia kaget, akhirnya gak minta-minta lagi. Tapi jadinya dia sibuk banget tiap hari buka youtube nyari-nyari video konsernya. Udah di tonton terus pake ngikutin joget-jogetnya di depan kaca. Diliatin saya pun dia cuek tapi malu-malu juga.
Yang paling nyebelin tuh jadwal nonton sinetron "putih abu-abu" yang gak pernah terlewat. 
Ini nurunin siapa sih ya??? 

Harus Semangat Sekolah

Pagi ini saya nemuin tulisan Rania, judulnya "Harus Semangat Sekolah". Tulisannya walaupun sederhana dan rada berantakan, tapi bisa bikin saya bangga dan bikin saya jadi terharu (hmm kalo suami liat bisa dibilang cengeng nih). Begini isinya:

"Harus Semangat Sekolah"
Semangat sekolah itu harus karna sekolah itu membuat kita menjadi pintar.
Ada sebagian orang yang mengeluh "ibu aku tidak ingin sekolah karena aku lelah bu, aku capek" itu kata orang yang hanya bermain saja tetapi anak yang tidak bisa sekolah bilang "ibu aku ingin sekolah bu, mengapa aku tidak bisa sekolah bu?" 
Jadi kita harus kasihan sama mama dan papa kita yang telah membiayai kita agar kita bisa sekolah. Jadi kita yang sekolah harus sekolah agar kita bisa mendapatkan ilmu.
Jadi yang sekolah bersyukurlah kepada Allah SWT dan kita harus mendoakan yang tidak bisa sekolah agar menjadi bisa sekolah. Amiiinnn......

Setelah membaca tulisan itu saya jadi terharu dan mengucap syukur. Alhamdulillah, dia bisa berempati sama orang lain. Semoga doamu terkabul ya nak....

Friday, November 20, 2009

Siap-siap masuk SD

Tahun depan Rania udah mulai masuk SD. Saya sering ditanya sama ibu-ibu di sekolah Rania, "rencananya Rania masuk masuk SD mana?"Saya pasti jawab, "belum tahu". Bukan karena saya males menjawab pertanyaan ibu-ibu itu, tapi memang saya belum tahu akan menyekolahkan Rania kemana. Di sekitar tempat tinggal saya, Ciledug City (biar gaya...), memang banyak SD bertebaran. Mulai dari SD Negeri di daerah Ciledugnya (wilayahnya masuk Tangerang) sampai ke daerah Joglo dan sekitarnya (masuk wilayah Jakarta Barat). Itu yg terdekat. Kalo mau agak jauhan dikit, sampai ke Kebayoran lama (masuk wilayah Jakarta Selatan). Itu baru yg SD negerinya. Kalo yg swasta, ada setidaknya 4 SDIT yg terhitung dekat sama rumah (masuk wilayah Tangerang) dan 2 SDIT yg ada di wilayah Jakarta.

Kebayang kan, dengan banyaknya pilihan sekolah membuat saya bingung harus milih yg mana. Kalo mau fair, ya semua sekolah memang harus didatangi. Tapi kan gak mungkin juga kalee. Dari sekian banyak SD negeri, yg saya sudah "incer" ada 2. Salah satunya SD Negeri Percontohan. Pertimbangannya, satu: SD negeri sekarang kan gratis, jadi apa salahnya menggunakan fasilitas yg sudah diberikan pemerintah. Dua: SD Negeri percontohan fasilitas dan sistemnya tentunya dikelola lebih baik dibanding SD Negeri lain. Tiga: Kalo bersekolah di SD Negeri tentunya Rania akan berkenalan dengan teman-teman yg lebih heterogen backgroundnya dibandingkan dengan SD swasta.

Tapi, dari sekian banyak SDIT ada satu juga yg saya "incer". Pertimbangannya, satu: SDIT pelajaran agamanya lebih banyak dibanding SD Negeri (maklum saya kurang paham ttg agama). Dua: SDIT yg saya incer, lingkungan sekolahnya baik dan murid-muridnya banyak juga yg berasal dari santri-santri yatim piatu yg dikelola oleh yayasan itu. Tiga: lokasi sekolah mudah dijangkau dari rumah. Sekali naik angkot aja.

Kalo ditanya ke Rania, saya takut dia gak objektif. Anak-anak kan cuma bisa menilai dari bagus tidaknya gedung sekolah. Dulu waktu mau masukin dia ke TK, yg dilihatnya cuma seberapa banyak mainan yg ada di sekolah. Kalo sekarang, kan gak bisa begitu. Gak bisa cuman dilihat dari gedung sekolah aja. Dia bakal ada di sekolah itu selama 6 tahun.

Saya doang yg heboh apa ibu-ibu yg lain ngerasain juga seperti saya ya???

Saturday, September 5, 2009

Sekolah Baru

Awal tahun ajaran ini, Rania pindah sekolah ke TK umum. Banyak perbedaan dalam sistem pengajaran antara sekolahnya yg dulu (Raudhatul Athfal) dan TK umum. Di sekolahnya yg dulu, setiap berdoa (mulai belajar, mulai makan, mau pulang) dan setiap yel-yel , semua berbau islami. Tapi, di TKnya yg sekarang, semua doa diucapkan selalu bersama dengan artinya.

Kenapa kok Rania bisa pindah ke TK umum? Karena teman-teman rumah Rania bersekolah disana, jadilah Rania minta dipindahkan ke sekolah itu. Saya berpikir, ya sudahlah, yg penting anaknya tidak mogok sekolah lagi. So far so good. Setiap dibangunkan pagi untuk sekolah sudah tidak ada lagi adegan pemaksaan, tidak ada lagi adegan tangis-tangisan. Dengan patuh Rania mau saja disuruh mandi dan bersiap-siap sekolah. Alhamdulillah...

Sekolah baru ternyata membuat Rania jadi lebih fresh. Teman-teman baru juga membuat Rania jadi lebih pede. Apalagi dengan guru baru, yang ternyata masih kenalan dekat dengan kakak ipar saya, membuat Rania jadi lebih semangat. Alhamdulillah...

Ayo Nak, jangan malas sekolah lagi ya... kalo Rania semangat, mama jadi ikut semangat...
Semangat!!!

Wednesday, February 25, 2009

Belajar di rumah

Setelah hampir 1 bulan mengundurkan diri dari sekolah, Rania seperti merdeka di rumah. Anehnya, perasaan saya juga jadi lebih plong. Entahlah... apa mungkin sejak gak sekolah, saya jadi lebih bisa mengatur jadwal anak-anak di rumah. Biasanya pagi-pagi saya sudah ribet menyiapkan segala keperluan sekolahnya, belum lagi membangunkan dan memandikannya. Butuh effort yg luar biasa. Tapi sekarang, sepertinya life is so smooth and I can enjoy organize everything.

Belajar. Itu top priority saya. Gimana caranya Rania bisa belajar di rumah dengan efektif. Awalnya saya mulai dengan main sekolah-sekolahan. Saya dan Rania bergantian jadi ibu guru. Semua bisa jadi bahan pelajaran. Mulai dari menulis semua nama benda yg ada di kamar mandi (pelajaran menulis), membaca buku cerita, sampe pengenalan bahasa Inggris. 

Dalam hati saya berpikir, hmmm, lumayan juga ya ngajarin anak di rumah walaupun gak setiap hari saya main sekolah-sekolahan. Jadi ceritanya homeschooling nih.

Thursday, February 12, 2009

Salam Perpisahan


Hari Rabu yang lalu saya pergi ke sekolah Rania, berniat pamit dengan guru dan kepala sekolahnya. Setelah berbasa-basi dengan kepala sekolah, saya kemudian masuk ke dalam ruangan kelas Rania. Tampak disana dua orang guru Rania sedang terdiam, seakan menunggu kedatangan saya. Saya masuk, lalu duduk berhadapan dengan mereka. Mereka bertanya bagaimana pembicaraan dengan kepala sekolah, saya jawab, ya begitulah, tidak ada yg istimewa, hanya sekedar pembicaraan sekedarnya. Kedua guru itupun mengangguk-angguk.

Sambil mengulurkan tangan kepada saya, salah satu guru bilang, "Mama Rania saya minta maaf tidak bisa membuat Rania cinta sekolah. Saya merasa saya kurang memperhatikan perkembangan Rania." Matanya basah oleh airmata. Saya jadi ikut terharu dan berkaca-kaca.

Saya bilang, "Bu, gak ada yg salah di sini. Saya tidak menyalahkan Ibu ataupun siapa2. Saya malah banyak berterimakasih sama Ibu sudah mendidik Rania dengan sabar. Sudah menjadi teman Rania di sekolah, di saat Rania merasa malu bergabung sama temannya yg lain." "Saya sudah ikhlas mau memberhentikan Rania dari sekolah ini. Saya juga merasa ini kesalahan saya tidak bisa membuat Rania senang sekolah. Tapi saya ambil hikmahnya aja Bu. Saya jadi bisa lebih dekat dengan anak2, bisa lebih tahu perkembangan anak. Mungkin ini jalannya Rania, harus berhenti dulu sekolahnya."

Kami bertiga pun jadi banjir airmata. Setelah saling minta maaf dan berjanji akan tetap saling kontak, saya pun berlalu dari sekolah.

Memang, Satu setengah tahun berada di sekolah itu, membuat saya dekat dengan beberapa guru, termasuk gurunya Rania yang terhitung masih muda (jadi saya anggap adik saya). Kedekatan emosional itulah yang membuat hati miris, harus berpisah dengan cara yang tidak biasanya. Seperti ada yang hilang, kata Mama Meidi.

Itu yang dikatakan mama Meidi waktu diadakan serah terima Bendahara POMG dari saya ke Ketua POMG dan Bendahara 2 POMG. Waktu acara itupun, kami (saya, Mama Icha, mama Meidi, Mama Aliya) hampir berurai airmata. Hampir ?!?!  karena gak jadi setelah saya ledek, "Ah kayak aku mau pergi jauh aja. Udah deh gak usah tangis2an ya."


Saturday, February 7, 2009

Berhenti Sekolah

Sabtu ini, saya sudah memutuskan untuk bicara dengan kepala sekolah Rania. Saya dan suami sudah memutuskan untuk memberhentikan Rania dari sekolah yg sudah lebih dari satu setengah tahun dijalaninya.Pasti banyak yg bertanya-tanya kenapa. Jawabannya cuma satu, Rania sudah tidak mau lagi sekolah. Ini sudah gak bisa lagi di tawar-tawar.

Rania susah sekali dibangunkan pagi-pagi untuk sekolah, sepertinya semangatnya untuk sekolah tidak ada. Setiap pagi saya harus beradu mulut, bernegosiasi, dan akhirnya saya yang kalah (atau mengalah-karena saya pasrah). Hampir semua cara sudah saya coba supaya Rania tidak malas untuk bangun pagi, mulai dari mengatur jam tidur, membuat kegiatan berbagai rupa, sampai mengatur jam makan sudah di coba. Tapi hasilnya nihil. Lelah dan sedih... mungkin itu kata yg tepat untuk menggambarkan suasana hati saya.

Dari TK A memang Rania sudah mulai agak males2 sekolahnya. Itu juga yg membuat saya akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan lebih fokus pada anak2. Mungkin dari awal memang salah saya. Dulu, saat Rania mau mulai sekolah, saya survey ke berbagai sekolah di sekitar rumah. Ada sekolah yg bahasa pengantarnya Inggris, ada yg pake kolam renang di sekolahnya, banyaklah, mungkin ada 5 sekolah yg saya survey.

Saya tanya Rania, "kakak mau sekolah dimana? kalo mama maunya kakak sekolah yg deket dari rumah aja biar gak susah ngantar jemputnya".
Jawab Rania, "aku mau yg mainannya gak keujanan, jadi kalo ujan aku masih bisa tetep main".

Saya langsung tahu, sekolah mana yg dia mau, tapi sekolah itu terhitung jauh dari rumah. Saya belum tega harus melepas dia ikut jemputan, sedangkan saya tidak bisa mengantar jemput. Pembantu waktu itu juga masih belum bisa saya percaya mengantar jemput Rania sendirian. Dan sekolah itu lumayan mahal untuk kantong saya. Akhirnya saya bujuk Rania untuk ikut saran saya masuk sekolah yg dekat dari rumah. Rania pun mau.

Setelah berjalan 6 bulan, tepatnya setelah Idul Fitri, Rania mulai gak mau sekolah. Awal2 tahun ajaran Rania senang sekali. Terlihat dari antusiasnya membeli perlengkapan sekolah, walaupun ini bukan pertama kali dia membeli perlengkapan sekolah. Sebelum TK A, Rania pernah saya ikutkan sekolah PAUD. Masuk dua kali dalam seminggu dan saya ikutkan hanya 6 bulan.

Saya dapat cerita dari ibu gurunya, bahwa Rania tidak mau sekolah lagi di situ. Rania mau sekolah di ---- (saya sensor, takut promosi). Lalu ibu gurunya konfirmasi, apa saya pernah mengajak Rania ke sekolah itu, saya jawab iya, dulu waktu survey sekolah. Saya kaget, ternyata selama ini Rania mengikuti pelajaran sekolah mungkin dengan terpaksa, bukan keinginannya. Tapi saya masih ragu apa benar karena masalah sekolah, bukan yg lain. Mungkin dengan teman2 nya atau gurunya. Saya pun berusaha cari tau apa yg bikin dia mogok sekolah.

Ada 3 hal yg bikin dia gak mau sekolah :
1. Teman-temannya susah diatur (menurut pendapat Rania). Selalu berisik dan mengganggu sehingga sulit buat dia fokus ke pelajaran. Saya berpikir mungkin karena terlalu banyak murid dalam kelas, sehingga ibu guru jadi susah mengontrol semua murid.
2. Sekolahnya jelek (bahasanya Rania). Memang dari bangunan sekolahnya, sekolah Rania terlihat biasa saja. Kelas, kamar mandi, ruang guru terlihat umpel-umpelan.
3. Mainannya tidak mendukung keinginannya. Memang ada beberapa mainan yg terlihat tidak terawat, bahkan harus berhati-hati jika ingin menaikinya.

Banyak rencana di kepala saya yang ingin saya lakukan untuk Rania, tapi ya satu satu dulu lah.Jadi, di awal tahun yg baru ini saya harus menambah resolusi lagi. Lebih intensif lagi membantu Rania belajar di rumah sebagai pengganti sekolah. Semoga saya bisa. Bismillah...

Saturday, December 13, 2008

Mogok Sekolah

Heghhh...
Geregetan kalo bangunin Rania pagi-pagi. Susahnya minta ampun. Ocehan saya dan tangisan Rania udah jadi lagu favorit kalo pagi-pagi. Jangankan disuruh mandi, buat buka mata aja susah banget. Makanya gak heran deh setiap hari ke sekolah terlambat terus. Tapi itu masih mendingan deh mau sekolah, kadang-kadang dia mogok gak mau sekolah. Duhhh... repot jadinya kalo dah begitu. Kesabaran kita nih para ortu bener-bener diuji deh.

Jadi inget tulisan kiriman seorang sahabat. Isinya tentang Kesabaran dan kreatifitas. Lho... emang ada hubungannya? Nih, dibaca aja ya...

Sabar dan kreatif

Seorang ayah punya tugas memandikan putra kesayangannya setiap pagi.  Sang anak berusia tiga tahun.  Dan ia tidak suka mandi! 

 Berbagai cara dicoba untuk membuat sang anak mandi.  Dari cara terhalus berbentuk bujukan sampai cara kasar,... paksaan dan pukulan.  Semuanya gagal.  Putranya bukan jadi mau mandi, tapi jadi membencinya.  Ia menangis dan mulai membalas pukulan.  Dua hal yang sudah dianggap nggak apa-apa oleh sang ayah.  Apalagi ia harus mengejar waktu untuk bisa masuk kerja tepat waktu.  Rutinitas yang membuat sang ayah kesal, marah dan hampir putus asa.  Tapi ia tidak mau melepaskan tugas tersebut.  Gengsi menghalanginya.  ”Masa mandiin anak kecil aja nggak bisa”, begitu pikirnya.

 Sampai suatu pagi, prosesi paksaan mandi kembali dilakukan, tentu dengan bentakan dan pukulan.  Sambil menangis pilu, sang anak berkata pada ayahnya : ”Ayah galak,... Ayah jahat...”.  Kata-kata itu benar-benar menusuk hatinya. 

 Selama ini, ia juga kena pukul anaknya.  Tapi sakitnya tidak sesakit kata-kata ”Ayah galak, ayah jahat” tadi.  Seharian ia tidak bisa bekerja dengan baik.  Kata-kata anaknya benar-benar menyentaknya.  Tak terasa, matanya berkaca-kaca.  Sang ayah menangis.  Ia benar-benar menyesal telah memperlakukan anak kesayangannya demikian buruk. 

 Sejak hari itu, ia tidak lagi memaksa anaknya mandi.  Sang anak memang tidak mandi.  Paling ganti baju saja.  Tapi,... tidak ada tangisan dan teriakan setiap hari. Sang ayah kembali berpikir bagaimana membuat anaknya senang mandi tanpa paksaan, teriakan apalagi pukulan.  Berbagai alternatif muncul.  Beberapa dicoba.  Gagal total.  Tapi sang ayah tidak menyerah.  Ia kembali mencari cara yang lebih baik.

 Sampai suatu ketika, suatu kesadaran baru timbul.  Sang ayah sadar, membuat anaknya senang mandi adalah sudut pandang yang keliru.  Bagi anak usia tiga tahun, tidak ada aktivitas yang disenanginya, kecuali bermain.  Jadi pertanyaannya bukan bagaimana membuat anaknya senang mandi, tapi bagaimana bersenang-senang dengan anaknya, termasuk ketika mandi.  Pemikiran ini menggeser fokus dan pendekatannya.  Dari fokus pada anaknya menjadi fokus pada dirinya sendiri. 

 Kesadaran ini membuat sang ayah merubah perintah mandi : ”Nak, mandi sana!” menjadi ajakan untuk bermain : ”Nak, main air yuk...”.  Selain itu, mandi justru menjadi aktivitas sampingan.  Aktivitas utamanya adalah main.  Dari mencuci bola anaknya, membuat gelembung sabun, main robot-robotan di air, mengisi air ke botol, dan sebagainya.  Mandi pun menjadi aktivitas yang menyenangkan. 

 Beberapa kali, sang anak memang masih tidak mau mandi.  Tapi, hal ini bukan lagi suatu masalah besar.  Sang ayah menjadi sangat kreatif dan sabar mencari permainan yang akhirnya membawa mereka ke kamar mandi, main air dan mandi.  Makin lama, proses main dan mandi ini menjadi makin cepat.  Dan akhirnya, suatu pagi sang anak berkata pada ayahnya: ”Yah, mandi yuk...”  Sang ayah pun langsung memeluk dan menggendong anak tercintanya.  Dengan mata berkaca-kaca, sang ayah berkata: ”Ayuk...”

 Saudara, mendidik anak membutuhkan kesabaran, bukan kemarahan.  Kreatifitas menjadi penting dalam proses menumbuhkan kesabaran ini.  Anda tidak akan jadi orang tua yang sabar bila anda tidak kreatif.  Kekerasan dalam memperlakukan anak tidak akan mendidik apapun selain dendam. 

Dalam kasus di atas, diperlukan banyak waktu untuk menjalin cinta dan keakraban antara sang ayah dengan anaknya.  Tidak efisien.  Tapi memang bukan efisiensi (hemat sumberdaya) yang menjadi fokus utama dalam mendidik anak.  Efektifitas (tujuan tercapai dengan baik) adalah fokusnya.  Jadi, asalkan terjalin cinta tulus antara orang tua dengan anaknya, masalah diperlukan banyak waktu, tenaga, pikiran, dana, dan sebagainya tidak lah menjadi masalah.

 Nah saudara, jangan salah fokus.  Jangan ingin cepat-cepat mendidik anak.  Tenang saja.  Anda punya waktu yang berlebih untuk mendidik anak dan terutama mendidik diri anda sendiri untuk menumbuhkan cinta tulus diantara anda dan buah hati anda. 


Baca tulisan itu, saya jadi banyak merenung dan berpikir apa yg sebaiknya saya lakukan untuk menghadapi masalah -males bangun pagi nya- Rania. Akhirnya, saya coba pagi-pagi saya stel lagu kesukaan dia, Goyang Duyu-nya Project Pop. Cukup kencang sampai bikin dia kebangun. Ternyata mampu bikin dia mau buka mata walau males-malesan. Dah gitu, saya stel lagi lagu Puspa-nya ST12. Sampai akhirnya dia bangun dan mondar-mandir. Trus baru saya bujuk dia ke kamar mandi, sambil nyanyi2. Pake baju dan siaplah dia ke sekolah, walau telat 10 menit.

Wuihhh.... perjuangan yg gak bisa dibilang mudah. Itulah, yg bikin saya jadi semangat. Saya berhasil bujuk Rania sekolah tanpa ada ocehan dan tangisan. Sampai berapa lama cara itu bisa berhasil, saya juga gak tau. Doakan saja semoga saya juga jadi lebih sabar (ya Allah, amin..) dan lebih kreatif lagi.


Wednesday, December 10, 2008

Akhirnya...

    Akhirnya anakku mau berangkat sekolah juga hari ini. Setelah seminggu Rania mogok sekolah, hari ini dengan cerianya Rania mau berangkat sekolah. Apa sebabnya...? Dia punya temen baru, mbaknya dari kampung dateng lagi. Rania jadi semangat berangkat sekolah. Duh, kalo begini repot juga bergantung sama pembantu. Gimana ya caranya supaya Rania mau tetep berangkat sekolah  tanpa harus bergantung sama mbaknya dan ada kesadaran dari dirinya sendiri?